Senin, 02 Juni 2014
MERANTAU
Merantaulah ...
agar kamu tahu bagaimana rasanya rindu dan kemana kamu harus pulang.
Merantaulah ...
kamu akan tahu betapa berharganya waktu bersama keluarga.
kamu akan tahu betapa berharganya waktu bersama keluarga.
Merantaulah ...
kamu akan mengerti alasan mengapa kamu harus kembali.
kamu akan mengerti alasan mengapa kamu harus kembali.
Merantaulah ...
akan tumbuh cinta yang tidak pernah hadir sebelumnya, pada kampung halamanmu, pada mereka yang kamu tinggalkan.
akan tumbuh cinta yang tidak pernah hadir sebelumnya, pada kampung halamanmu, pada mereka yang kamu tinggalkan.
Merantaulah ...
kamu akan menghargai tiap detik waktu yang kamu lalui bersama ayah, ibu, adik, kaka, ketika kamu pulang ke rumah.
kamu akan menghargai tiap detik waktu yang kamu lalui bersama ayah, ibu, adik, kaka, ketika kamu pulang ke rumah.
Merantaulah ...
kamu akan lebih paham kenapa orang tuamu berat melepasmu pergi.
kamu akan lebih paham kenapa orang tuamu berat melepasmu pergi.
Merantaulah ...
kamu akan lebih mengerti akan sebuah arti perpisahan.
kamu akan lebih mengerti akan sebuah arti perpisahan.
Merantaulah ...
semakin jauh tanah rantauan, semakin jarang pulang, semakin terasa betapa berharganya pulang.
semakin jauh tanah rantauan, semakin jarang pulang, semakin terasa betapa berharganya pulang.
Minggu, 01 Juni 2014
Jika seseorang mengalokasikan waktunya sehabis sholat
subuh untuk menghafal, setelah sholat dzuhur untuk membaca yang ringan, setelah
sholat ashar untuk menulis, setelah sholat maghrib untuk berbincang santai dan
setelah sholat isya untuk membaca buku kontemporer, hasil riset mengatakan
mereka tidak akan menjadi orang bersedih dan merugi.
Surat dari ibu, untuk sang menantu lelaki
Wahai menantuku,
Aku hanyalah seorang ibu yang berbicara atas nama diriku sendiri dengan melihat putriku sebagai istrimu dan engkau sebagai menantuku, bila engkau membaca pesan ini semoga engkau melihat pula bayang wajah ibu yang telah mengandung dan melahirkanmu, berdiri bersamaku tepat dihadapanmu.
Wahai menantuku,
Engkau imam dunia dan akhirat untuk putriku, bukankah engkau juga akan membawanya hingga ke baka dan memberinya satu tiket ke surga ?
Wahai menantuku,
Bila ada kelemahan dari istrimu dan seribu lagi keburukan yang dilakukannya akibat kelemahan dan juga karena kekurangan dariku, itu menjadi tugasmu untuk mendidiknya sekarang dan bukan lagi tugasku.
Diajarkan kepadamu oleh Nabi bahwa seorang suami tak boleh membiarkan mata istrinya basah walau hanya serupa tetesan embun dini hari. bukankah engkau sebagai suaminya yang harus melindunginya dengan rasa tentram dan aman. maka berikanlah keteduhan bagi jiwanya.
Engkau suami yang dipilih Allah SWT untuk putriku, bersabarlah terhadap istrimu dan tetaplah bersikap lemah lembut padanya. bukankah menikahinya atas nama Allah SWT maka sayangi dan peliharalah istrimu dengan jalan Allah.
Wahai menantuku,
Sebagian besar penghuni neraka adalah perempuan dan itu disebabkan mereka durhaka terhadap suaminya, maka selamatkanlah istrimu dari dosa yang lebih besar. bukankah nantipun engkau akan ditanya tanggung jawab bagaimana kau mengurusnya, dan pertanyaan itu ditujukan padamu bukan padaku.
Wahai menantuku,
Engkau diijinkan menghukum istrimu sewajarnya, namun janganlah mengenai wajahnya dan jangan pula menyentuh tubuhnya hingga meninggalkan jejak luka. janganlah menghardiknya dengan kata-kata kasar dan umpatan yang merendahkan seolah engkau telah menistakan dirimu sendiri sebab ia itu pakaianmu.
Wahai menantuku,
Aku titipkan putriku padamu. buatlah dia tersenyum menuju surga atas tiket darimu.
Langganan:
Postingan (Atom)

